FENOMENA KELIRU

  • Mengapa Bus Way?
  • Apa maksud kata Ping Pong?
  • Apa yang salah dalam hati?
  • Kenapa absen?

Slogan

MENGUPAS SEGALA FAKTA DAN FENOMENA KELIRU DI SEKITAR KITA
Showing posts with label keliru. Show all posts
Showing posts with label keliru. Show all posts

Monday, May 6, 2013

BUS WAY ???

     Tulisan kali ini akan membahas fenomena keliru seputar bus way. Jika Anda tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, pasti bus way bukanlah hal yang asing lagi. Namun tahukah Anda bahwa ada beberapa hal keliru dalam penggunaan kata bus way ini?
     Pertama, ketika kita mendengar kata bus way, pasti yang pertama kali terlintas di otak kita adalah bus Trans Jakarta. Bahkan ketika kita search kata bus way di google images, yang muncul adalah foto bus Trans Jakarta. Padahal sesungguhnya ini adalah hal yang keliru. Karena bus way jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya jalan bus atau jalur bus. Jadi, bus way sebenarnya adalah jalan atau jalur yang disediakan khusus untuk bus Trans Jakarta.
     Kedua, bus way di Indonesia dilalui oleh bus Trans Jakarta. Bus Trans Jakarta memang salah satu jenis bus, namun tulisan pada body-nya tidak ada kata "bus". Yang tertulis hanyalah kata "Trans Jakarta". Maka jika dipikir-pikir, kenapa yang melalui jalur bus (bus way) adalah kendaraan yang bertuliskan "Trans Jakarta", bukan bus-bus lain yang pada body-nya jelas tertulis kata "bus" (misal "Bus Pariwisata")? Jika memang jalur itu khusus dibuat untuk "Trans Jakarta", seharusnya nama jalurnya bukanlah bus way, namun "Trans Jakarta way". Atau mungkin seharusnya di body bus Trans Jakarta ditulis lengkap "Bus Trans Jakarta".
     Ketiga, kita tentu sering mendengar atau bahkan mengatakan frasa "jalur bus way". Apakah benar penggunaan frasa ini? Sebenarnya ini merupakan hal yang keliru. Karena kata "bus way" jika diartikan adalah jalur bus. Jadi ketika kita mengatakan "jalur bus way", artinya sama dengan "jalur jalur bus". Sebagai contoh ketika kita mengatakan "Bus way seharusnya lewat jalur bus way", maka yang benar adalah "Bus Trans Jakarta seharusnya lewat bus way". Mungkin terdengar aneh, tapi inilah kenyataannya, bahwa fenomena keliru yang sering terjadi di sekitar kita akan terasa benar, dan yang sesungguhnya benar akan terasa aneh dan salah.
     Sekian pembahasan mengenai fenomena keliru dalam penggunaan kata "bus way". Di tulisan-tulisan berikutnya, masih banyak fenomena-fenomena keliru lain yang lebih menarik untuk dibahas. Semoga bermanfaat.
--KELIRUMONOLOGI--

Wednesday, May 1, 2013

HATI ???


     Tulisan kali ini akan membahas tentang penggunaan kata "hati". Pasti Anda semua tahu apa itu "hati" dan bahkan sering mengucapkannya. Akan tetapi sadarkah Anda bahwa ada fenomena keliru dalam penggunaan kata "hati" di masyarakat Indonesia? Mari kita telaah sebelah mana kekeliruannya.
     Dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang sedang dimabuk asmara, atau yang sedang putus cinta, pasti Anda sering mengucapkan kata "hati". Bagi Anda yang sedang mabuk asmara biasanya akan menggunakan kata "hati" sebagai gombalan kepada pasangan. Biasanya akan terucap kata "Kau telah mengisi kekosongan hatiku" (sambil tangannya memegang dada), atau kalimat lain yang maknanya serupa. Sedangkan bagi orang yang sedang putus cinta, biasanya akan mengatakan "Kau telah menghancurkan hatiku" atau "Hatiku telah hancur" (tangannya juga sambil memegang dada). Di sinilah letak kekeliruannya. Kita sering keliru dengan apa yang kita maksud, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita lakukan.
     Sebenarnya kata yang kita maksud adalah jantung. Kenapa bisa jantung? Ada beberapa penjelasan mengenai fenomena keliru ini. Yang pertama, kita sering mengidentikkan kata "hati" dengan perasaan, padahal seharusnya tidak demikian. Seharusnya yang identik dengan perasaan adalah jantung, karena jantung merupakan organ paling vital bagi tubuh. Perasaan yang sedang kita alami atau kita rasakan diibaratkan dengan sesuatu yang penting atau vital (dalam hal ini adalah organ yang penting bagi tubuh, yaitu jantung). Ketika kita merasakan senang, seharusnya yang kita katakan adalah "Jantungku sangat senang hari ini". Dan ketika kita merasakan sedih seharusnya yang kita katakan adalah "Jantungku sedang sedih".
     Penjelasan kedua, yaitu mengenai apa yang kita lakukan ketika kita merasakan sesuatu. Misal, ketika kita merasakan sedih pasti tangan kita akan memegang dada. Berdasarkan ilmu biologi, organ yang ada di dalam dada yang sedang kita pegang adalah jantung, bukan "hati". Penjelasan yang ketiga adalah ketika kita membandingkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Ketika kita akan menerjemahkan kalimat "You broke my heart", pasti kita akan menerjemahkannya "Kau telah menghancurkan hatiku". Apakah kata "heart" artinya "hati"? Jawabannya tentu bukan. Kata "heart" jika diterjemahkan berarti "jantung".
     Jadi kesimpulannya, kata "hati" yang sering digunakan untuk menggambarkan perasaan kita, seharusnya adalah kata "jantung". Namun karena kita sudah terbiasa menggunakan kata "hati", maka ketika kita menggantinya dengan yang benar, (yaitu "jantung"), maka akan terasa sangat aneh. Pasti kalimat-kalimat ini terdengar sangat aneh di telinga kita. "Kau telah mengisi jantungku yang kosong", "Kau telah menghancurkan jantungku", dan lain sebagainya yang tentu saja tidak lumrah kita dengar. Namun sesungguhnya, inilah penggunaan kata yang benar.
     Demikian pembahasan mengenai kekeliruan penggunaan kata "hati" yang sudah biasa kita gunakan sehari-hari. Di tulisan-tulisan berikutnya, akan ada banyak fenomena kekeliruan lain yang lebih menarik untuk dibahas.
--KELIRUMONOLOGI--
    



Tuesday, April 30, 2013

ABSEN ???


     
     Kata absen sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Di berbagai tempat kita mungkin sering mendengar kata ini. Di sekolah baik PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi. Selain itu juga di lingkungan kerja seperti di perusahaan atau di kantor pemerintahan. Atau mungkin kita juga pernah mendengar di tempat umum atau dalam percakapan kita sehari-hari. Intinya adalah, kata "absen" ini sudah kerap muncul di kehidupan kita.
     Kebanyakan orang mengartikan kata "absen" sebagai kehadiran. Ketika kita mendengar kata "absen", biasanya kita akan secara spontan mengartikannya sebagai hadir, atau tingkat kehadiran. Namun taukah Anda apa arti dari kata "absen" yang sesungguhnya? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "absen" diartikan sebagai tidak hadir atau tidak masuk. Namun pada kenyataannya, kata "absen" ini justru memiliki makna yang berlawanan.
     Bagi Anda yang sedang menempuh pendidikan di daerah manapun di Indonesia, pernahkah Anda mendengar guru atau dosen Anda berkata "Kita absen dulu ya" atau "Absensinya segera diiisi ya" atau kalimat lain yang mengandung kata "absen"? Pasti jawabannya, ya. Sedangkan pada lingkungan perkantoran terutama kantor pemerintahan, pernahkah Anda mendengar "PNS itu hanya absen saja lalu pulang" atau kalimat lain yang menggunakan kata "absen" yang disalahartikan? Pasti jawabannya juga, ya. Ketika kita sedang berada di tempat umum, atau ketika sedang melakukan percakapan sehari-hari, penggunaan kata "absen" yang disalahartikan ini pasti juga kerap terjadi. Penggunaan kata yang keliru ini kerap dilakukan oleh mahasiswa. Bagi Anda yang saat ini menjadi mahasiswa atau yang pernah menjadi mahasiswa, pasti sudah tidak asing lagi dengan kata TA? Bagi Anda yang belum tahu, TA adalah singkatan dari Titip Absen. Ketika seorang mahasiswa tidak mengikuti kuliah karena alasan apapun, biasanya supaya kehadirannya tetap 100%, dia akan mengatakan kepada temannya "Bro, gue titip absen ya". Mahasiswa mengartikan titip absen sebagai titip kehadiran, padahal arti kata "absen" bukanlah kehadiran.
     Jadi, sebenarnya kata yang kita maksud sehari-hari sebagai kata "absen" adalah presensi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), presensi diartikan sebagai hadir atau kehadiran. Kata ini juga disebut-sebut merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu "presence" yang artinya ada atau hadir.
     Demikianlah salah satu fenomena keliru yang terjadi di masyarakat Indonesia. Pada tulisan-tulisan berikutya akan banyak lagi fenomena keliru semacam ini yang akan dibahas. Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya.
--KELIRUMONOLOGI--